Ground Breaking

Program DP0 adalah salah satu dari dua program Pak Anies dan Pak Sandi yang paling saya tunggu. Satunya lagi adalah program OK OTRIP. Kesamaan dari kedua program ini adalah keduanya merupakan program yang tidak akan berhasil kalau orientasinya hanya pada pengadaan artifak fisik saja.

Meski demikian, nyatanya saya memulai ulasan ini dengan memberi ucapan selamat pada Pak Anies, Pak Sandi, dan seluruh jajaran Pemprov DKI yang sudah melakukan ground breaking pembangunan rusun untuk Program DP0 di Pondok Kelapa, yang notabene merupakan sebuah artifak fisik. Saya beri selamat bukan karena Pemprov DKI sudah ground breaking semata. Ibarat pertandingan sepakbola, ground breaking kan baru sekadar kick off saja. Kalau murni hanya melihat artifak fisik, Pemprov DKI justru baru layak diberi selamat nanti ketika bangunan rusunnya sudah bisa ditempati.

Saya beri selamat karena bersamaan dengan ground breaking rusun Kelapa Village tersebut, ada dua informasi penting yang diungkap ke publik. Informasi pertama adalah harga rusun yang dipasarkan di program ini. Selama masa kampanye dulu, saya ingat betul banyak yang mencemooh, “di mana beli rumah di Jakarta di bawah 350 juta?”. Bahkan meski sudah disampaikan bahwa untuk program ini tidak menutup kemungkinan hunian yg ditawarkan adalah hunian vertikal (rusun). Syukurlah segala kritik, keraguan, dan cemooh itu bisa terjawab sekarang. Rusun yang ditawarkan di Kelapa Village harganya adalah 185 juta untuk tipe 21 dan 320 juta untuk tipe 36.

Informasi penting kedua adalah ada 21 pengembang yg siap bekerjasama dengan Pemprov DKI untuk membangun lebih banyak lagi unit rusun untuk program DP0. Saya juga masih ingat betul bagaimana selama masa kampanye banyak yg meragukan, “pengembang mana yang mau bikin rusun harga segitu?” Syukurlah soal ini juga sekarang berhasil terjawab.

Tentu urusan tak selesai di situ. Membangun artifak fisik rusun untuk program DP0 ini hanya satu tahapan saja. Tahapan-tahapan selanjutnya akan lebih berat: bagaimana menegosiasikan aturan skema cicilannya dengan BI dan OJK, bagaimana meregulasi siapa beneficiary program dari sekian banyak warga yang eligible (berpenghasilan < 7 juta rupiah), dan bagaimana mencegah agar program ini tak bernasib seperti rusunami di Kalibata yang akhirnya harganya melejit lagi karena dilepas begitu saja ke pasar.

Belum-belum saja, sudah beredar banyak disinformasi. Saat tulisan ini dibuat, misalnya, saya sempat melihat sebuah twit yang beredar berisi gambar mengenai skema cicilan program DP0 dengan bunga sekian persen, tenor sekian tahun, dan (yang cukup menghebohkan) biaya akad sampai sebesar 20 juta rupiah. Twit tersebut kemudian dikoreksi oleh akun @SuaraAnies pada twit berikut.

Hal yang membuat saya heran, informasi yang tidak mencantumkan sumber apa pun tersebut ternyata ditelan begitu saja, dianggap faktual, dan bahkan disebarkan ulang oleh orang-orang yang mengaku terdidik. Padahal, Pak Sandi sendiri bilang, jangan berspekulasi dulu tentang skema dan segala macamnya karena memang saat ini masih didiskusikan dengan melibatkan BI dan OJK.

Saya sendiri punya harapan terhadap program DP0 ini. Bukan harapan untuk terpilih sebagai beneficiary program, toh saya tidak eligible. Harapan saya, dengan adanya program ini maka pasar properti secara umum pun bisa lebih terkendali harganya. Pada November 2017 lalu, situs Detik.com sempat memuat sebuah berita dengan judul yang thought provoking: 95% Kaum Milenial Terancam Jadi ‘Gelandangan’ di 2020. Terlepas dari judulnya yang agak provokatif tersebut, saya mengamini betul ulasannya yang kurang lebih menyatakan bahwa rata-rata kenaikan harga properti jauh melebihi rata-rata kenaikan pendapatan kelas menengah dan bawah. Tanpa ada intervensi terhadap pasar properti dengan semacam program DP0 ini, bisa dibayangkan bagaimana sulitnya membeli properti di tahun-tahun mendatang. Pada akhirnya, hunian terjangkau adalah masalah kita bersama karena “the invisible hand of the market” tidak terlalu peduli di pilkada kemarin kawan-kawan pilih siapa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *