Anak Paling Beruntung Sedunia

Bicara soal keberuntungan, ada sebuah cerita yang sangat saya sukai. Alkisah, di era “the warring states” sebelum unifikasi Tiongkok di bawah dinasti Qin, hidup seorang petani tua yang tinggal dengan anak laki-laki satu-satunya yang sudah berusia dewasa. Petani tua ini memiliki seekor kuda.

Suatu hari, kuda miliknya hilang, pergi entah ke mana. Tetangga-tetangganya berkata, “wah, malang sekali nasibmu Pak Tua”. Si petani hanya menjawab, “nasib baik, nasib buruk, siapa yang tahu?”

Berselang beberapa hari kemudian, kudanya tiba-tiba kembali pulang, bahkan membawa serta seekor kuda betina. Jadilah si petani memiliki dua ekor kuda kini. Tetangganya kini berkata, “wah, beruntung sekali nasibmu Pak Tua”. Si petani hanya menjawab, “nasib baik, nasib buruk, siapa yang tahu?”

Karena kini memiliki dua ekor kuda, anak laki-laki si petani kini bisa belajar menunggangi kuda. Ketika sedang belajar menunggangi kuda, sang anak terjatuh dan mengalami patah tulang pada tangannya. Kembali para tetangga berkata, “wah, malang sekali nasibmu Pak Tua”. Lagi-lagi, si petani hanya menjawab, “nasib baik, nasib buruk, siapa yang tahu?”

Ketika si anak sedang cedera, datanglah petugas istana mengumumkan bahwa negara sedang diserang. Raja memerintahkan semua laki-laki untuk ikut wajib militer, kecuali bagi mereka yang masih anak-anak, sudah lanjut usia, atau sedang sakit. Meski sebenarnya di usia wajib militer, karena sedang cedera maka anak pak tani diizinkan tidak ikut wajib militer. Seperti biasa, para tetangga selalu senang berkomentar. Kali ini komentar mereka, “wah, beruntung sekali nasibmu Pak Tua”. Kembali dijawab oleh si petani, “nasib baik, nasib buruk, siapa yang tahu?”

*****

Bagi saya, cerita di atas merupakan sebuah pengingat diri (self-reminder) yang paling baik setiap kali saya mengalami hal yang saya anggap baik atau buruk. This too shall pass. Kalau hari ini saya mengalami hal buruk, ia akan berlalu, maka saya usahakan bersabar. Kalau hari ini saya mengalami hal baik, ia akan berlalu, maka saya mencoba untuk tidak jumawa dan besar kepala. Tapi, dari sekian banyak hal baik dan buruk yang saya alami dalam hidup, ada satu hal yang saya yakin betul tidak akan berganti: saya sangat beruntung karena telah memenangkan sebuah lotre yang sangat besar.

Kata George Kaiser, seorang konglomerat dan filantrofis dari Amerika Serikat, orang-orang yang terlahir dari orang tua yang penuh cinta kasih telah memenangkan “ovarian lottery” alias “lotre rahim”. Sebenarnya secara lengkap Kaiser bilang, “those who have won the ovarian lottery by being born in an advanced society to loving parents have a special obligation to help restore the American Dream”. Biasa lah, American exceptionalism. Tapi saya sedang ingin fokus ke “born to loving parents” untuk tulisan ini.

Buat saya, lotre rahim itu telah saya menangkan ketika terlahir sebagai anak dari kedua orang tua saya. Keduanya bukan orang kaya raya yang dengan hartanya bisa memberikan saya hidup yang penuh kemewahan. Keduanya bukan orang berkuasa yang dengan kekuasaannya bisa memberikan saya hidup yang penuh kemudahan. Tapi keduanya punya cinta kasih yang dengan kasih sayang itu bisa memberikan saya hidup yang bahagia, apa pun keadaan hidup yang saya alami.

Sejak kecil sampai kuliah saya tidak pernah punya sepatu dari brand ternama, misalnya. Tapi saya selalu bersekolah di sekolah terbaik yang Mama dan Papa bisa. Bahkan ketika hendak masuk SMA, keduanya tidak melarang saya untuk mendaftar di sebuah sekolah yang saat itu biaya masuknya sedang mahal-mahalnya. Di kemudian hari ini saya baru tahu bahwa keduanya berhutang sampai hampir belasan juta rupiah untuk bisa membayar berbagai biaya saya di sekolah. Angka yang besar, rasanya, untuk ukuran tujuh belas tahun lalu.

Mama dan Papa juga mendukung pilihan karir saya yang tidak biasa dan untuk sekitar lima tahun pertama penuh dengan kesulitan finansial. Di saat orang-orang seusia saya ketika itu sudah bisa membantu meringankan beban finansial kedua orang tuanya, saya justru masih terkadang merepotkan kedua orang tua saya karena pada satu dua periode yang sangat sulit, saya masih harus meminjam uang dari mereka untuk sekadar bisa tetap makan tiga kali sehari. Tapi Mama dan Papa tidak pernah mengeluhkan bahwa saya hanya membuat repot mereka.

Tentu keduanya tidak tanpa cela. Tapi apapun kekurangan mereka, tertutupi dengan cinta kasih yang tak putus diberikan kepada saya sebagai anaknya. Walaupun pernah mereka marah pada saya, misalnya, di kemudian hari saya paham bahwa marah mereka pun merupakan wujud cinta kasih mereka dalam mendidik dan membesarkan saya.

Juga tentunya judul “anak paling beruntung sedunia” di atas hiperbola. Karena saya yakin sebagian besar orang pasti merasa beruntung terlahir sebagai anak dari kedua orang tuanya. Dan sebenarnya, sedikit berharap dan sedikit insecure, saya juga kadang bertanya-tanya apakah kelak anak-anak saya ketika dewasa akan merasa jadi anak paling beruntung sedunia. Tapi biarlah, namanya sedang mengekspresikan diri, sedikit hiperbola tak mengapa. Terimakasih Mama dan Papa yang telah menjadikan saya anak paling beruntung sedunia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *