Tunjuk Satu Bintang

Seumpama astrofisikawan Neil DeGrasse Tyson bisa Bahasa Indonesia dan secara kebetulan mendengar bait pertama lagu ‘Tunjuk Satu Bintang’, saya bayangkan Tyson mungkin akan berkomentar, “fun fact, two thirds of known stars are named with Arabic name”. Tapi kemudian saya bayangkan juga, barangkali banyak yang akan menanggapi pernyataan Tyson tadi dengan komentar, “you obviously have a funny definition of fun”.

Sebenarnya, buat saya sendiri, fakta barusan memang menarik. Beberapa nama bintang yang selama ini saya kira dari Bahasa Inggris ternyata banyak yang berasal dari Bahasa Arab. Altair, misalnya, ternyata berasal dari ‘(An-Nisr) At-Thair’ yang artinya ‘The Flying (Eagle)’. Alphard? Dari ‘Al-Fard’ yang artinya ‘The Solitary One’. Aldebaran? Dari ‘Ad-Dabaran’ yang artinya ‘The Follower’.

Bahkan nama semacam Betelgeuse yang sepintas terlihat jauh dari kosakata Bahasa Arab ternyata berasal dari frase ‘Yad al-Jauza’ yang berarti ‘The Hand of Jauza’. Karena kesalahan saat proses translasi ke Bahasa Latin di era medieveal, huruf ‘ya’ berubah jadi ‘ba’, sehingga dibaca sebagai ‘Bad al-Jauza’ dan kemudian menjadi Betelgeuse. Perihal nama-nama bintang yang berasal dari Bahasa Arab ini insya Allah jauh lebih bernas dibandingkan otak atik gathuk nama Gaj Ahmada.

Malahan topik perihal dua pertiga nama bintang yang berasal dari Bahasa Arab ini adalah sebuah topik yang cukup sering dibahas oleh Tyson. Pembahasan Tyson mengenai topik ini biasanya disambung dengan analisis penyebab mundurnya dunia Islam pada bidang sains dan teknologi sejak akhir abad kesebelas hingga sekarang. Salah satu contohnya bisa dilihat pada cuplikan speech Tyson berikut.

Menurut Tyson, kemunduran sains dan teknologi di dunia Islam salah satunya disebabkan oleh pengaruh ajaran Al-Ghazali semacam, “matematika adalah pekerjaan setan”. Di kemudian hari Tyson mengoreksi pernyataannya mengenai Al-Ghazali. “Terkait [Al-Ghazali], representasi yang lebih akurat mengenai pandangannya adalah bahwa mengolah angka-angka merupakan pekerjaan yang bersifat keduniaan,” ujarnya. Meskipun demikian, menurut The Economist, Tyson tetap memandang Al-Ghazali sebagai tokoh yang pengaruhnya sebanding dengan gerakan anti sains di kalangan agamis kanan di Amerika Serikat.

Dari Anti Sains Hingga Bumi Datar

Meski tidak sepenuhnya sependapat dengan Tyson mengenai Al-Ghazali, ada satu hal yang mengganjal di benak saya setelah menyimak speech Tyson di atas. Pertanyaan tersebut adalah, “apakah betul kultur dunia Islam sejak akhir abad kesebelas hingga saat ini sudah berubah menjadi kultur yang anti sains?”

Pertanyaan ini pertama kali muncul di benak saya ketika mengetahui bahwa beberapa kawan sekolah saya dulu ternyata sekarang mempercayai bahwa bumi berbentuk datar. Awalnya saya kira beberapa kawan ini hanya bercanda. Rupanya mereka serius.

Saya kemudian berusaha menelusuri lebih dalam ‘aliran kepercayaan’ mereka ini. Beberapa kali saya terlibat dalam perdebatan yang cukup panjang dengan kawan-kawan yang mempercayai teori FE (flat earth, demikian mereka suka menyebutnya) ini. Dari beberapa interaksi inilah saya melihat beberapa masalah yang cukup serius pada kawan-kawan proponen FE.

Sebenarnya kawan-kawan yang mempercayai teori FE ini punya rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Tidak jarang mereka mempertanyakan hal-hal yang sebelumnya saya anggap sebagai sesuatu yang sudah menjadi pengetahuan umum. Misalnya soal ukuran bumi, bulan, dan matahari dan jarak antara ketiganya. Berapa ukuran dan jarak antara ketiga benda ini merupakan salah satu poin penting dalam perdebatan antara sains vs aliran kepercayaan bumi datar.

Pasalnya, jika kita menggunakan ukuran dan jarak bumi, bulan, dan matahari yang sudah diketahui oleh para saintis, maka mustahil konsep FE bisa menjelaskan apa penyebab terjadinya perbedaan siang dan malam pada belahan bumi yang berbeda. Untuk menjelaskan fenomena ini, maka para proponen FE menyatakan bahwa ukuran bulan dan matahari tidak sebesar yang selama ini ‘dipropagandakan’ oleh sains sembari bertanya, “dari mana sains mengetahui ukuran-ukuran tersebut?”

Dari Syene Hingga Alexandria

Sayangnya, rasa ingin tahu yang besar ini tidak diiringi dengan usaha yang sepadan untuk benar-benar mencari tahu. Ini masalah serius pertama yang saya temukan pada kawan-kawan proponen FE.

Padahal dengan sedikit googling sederhana saja, nyaris semua pertanyaan proponen FE ini bisa terjawab. Saya ambil pertanyaan tentang ukuran bumi sebagai contoh. Proponen FE membuat seolah-olah ukuran bumi yang kita pelajari di sekolah adalah sebuah angka yang diberikan secara dogmatis, turun dari langit begitu saja. Padahal kalau mau berusaha googling pertanyaan “how do we measure earth size?” sebentar saja, kita akan menemukan berbagai materi tentang eksperimen Eratosthenes.

Eratosthenes adalah seorang ilmuwan Yunani kuno yang hidup pada tahun 276-194 sebelum masehi. Erathostenes mendengar bahwa pada hari summer solstice (tanggal 21 Juni menurut kalender modern) di kota Syene pada tengah hari tidak ada bayangan sama sekali. Sementara, di kota Alexandria tempat Erathostenes tinggal, di hari dan waktu yang sama tidak terjadi fenomena yang sama.

Berdasarkan pengamatan ini, Erathostenes membuat dua kesimpulan. Pertama, permukaan bumi pastilah tidak datar. Karena jika permukaan bumi datar, pada waktu yang sama, bayangan di seluruh permukaan bumi pasti memiliki sudut yang sama juga. Kedua, dengan trigonometri sederhana, Erathostenes menyimpulkan bahwa sudut yang dihasilkan bayangan di kota Alexandria (sebesar 7,2 derajat) merepresentasikan sudut antara kota Alexandria dan Syene di permukaan bumi.

Sumber gambar: www.juliantrubin.com.

Tidak berhenti di sana, Erathostenes kemudian mengupah seseorang untuk mengukur jarak antara kota Syene dengan Alexandria. Hasilnya adalah 5000 stadia, atau sekitar 800 kilometer. Berdasarkan data-data ini, Erathostenes kemudian bisa menghitung bahwa total keliling bumi adalah 800 kilometer * (360 derajat/7,2 derajat) = 40.000 kilometer. Penjelasan yang disertai dengan ilustrasi mengenai perhitungan Erathostenes ini bisa kawan-kawan simak di video berikut ini.

Dari Tahun 200 SM Hingga Abad 20

Baru di abad 20 kita bisa memverfikasi angka yang diperoleh Erathostenes. Setelah adanya teknologi satelit, para ilmuwan baru bisa menghitung angka keliling bumi yang aktual yaitu sebesar 40.030 kilometer. Artinya, eksperimen yang dilakukan oleh Erathostenes lebih dari dua ribu tahun lalu ternyata menghasilkan perhitungan dengan akurasi 99%! Keren ya?

Eksperimen Erathostenes sampai hari ini masih banyak dilakukan di berbagai penjuru dunia. Bahkan, dua kali dalam setahun, Unesco mengundang siapa saja untuk berpartisipasi melakukan eksperimen ini bersama-sama. Eksperimen bersama berikutnya akan dilakukan pada 21 September 2017.

Saya pernah mengajak beberapa kawan proponen FE untuk ikut serta melakukan eksperimen Erathostenes tanggal 21 September nanti. Tidak satu pun yang menyanggupi. Beberapa kawan malah berkilah, “ya tapi untuk melakukan eksperimen ini kan kita berasumsi jarak matahari ke bumi memang jauh dan ukuran matahari besar, sementara menurut kami tidak begitu”.

Padahal justru inilah momen yang tepat untuk membuktikan ‘asumsi’ mana yang benar dan mana yang keliru. Dengan trigonomentri sederhana, saya bisa menebak jarak antara kota saya dengan kota tempat kawan-kawan saya ini melakukan eksperimen Erathostenes tanpa mengetahui di kota mana mereka melakukannya.

Sebaliknya, kalau memang memiliki dasar saintifik, maka teori FE seharusnya memiliki model yang bisa memprediksi hasil eksperimen dengan menggunakan ukuran matahari dan jaraknya dari bumi versi FE. Akan berada di mana posisi matahari saat itu menurut FE? Bagaimana dampaknya terhadap sudut bayangan di kota-kota tempat pengukuran dilakukan? Ketika saya tantang untuk membuat prediksi dan penjelasan yang ilmiah, lagi-lagi tidak ada satu pun kawan-kawan proponen FE yang menyanggupi.

Dari Erathostenes Hingga Alhazen

Cerita soal ajakan saya untuk melakukan eksperimen Erathostenes yang bertepuk sebelah tangan barusan menunjukkan masalah serius kedua yang saya temukan dari kawan-kawan proponen FE. Dengan segala kritiknya terhadap sains modern, teori FE dan para proponennya tidak bisa menghasilkan model tandingan yang saintifik dan koheren. Sekedar memprediksi bagaimana hasil eksperimen sederhana seperti eksperimen Erathostenes saja tidak mampu.

Kita sedikit keluar dari perdebatan antara sains vs FE. Ketika Alhazen berhasil membuktikan bahwa cahaya merambat dalam garis lurus, berhasil menjelaskan bagaimana cermin bekerja, dan berargumen bahwa cahaya berbelok saat bergerak melewati medium yang berbeda, Alhazen mencatat semua eksperimen yang dilakukannya pada sebuah buku yang kemudian menjadi karya monumentalnya, Kitab Al-Manazir.

Menurut Jim Al-Khalili, seorang profesor fisika teori, melalui Kitab Al-Manazir sejatinya Al-Hazen hendak mengatakan, “jangan percaya kata-kata saya begitu saja, silakan buktikan sendiri dengan mengulang eksperimen yang saya lakukan”. Inilah salah satu prinsip penting dalam metode saintifik. Falsifiability.

Sumber gambar: Wikimedia.

Seperti yang bisa dilihat pada gambar di atas, dalam metode saintifik prinsip falsifiability artinya semua hipotesis yang diformulasikan harus menghasilkan prediksi yang dapat diuji benar salahnya. Jika prediksi yang dibuat oleh hipotesis tidak terjadi, maka hipotesis tersebut harus diperbaiki, diubah, dikembangkan atau bahkan ditolak sama sekali. Jika prediksi yang dibuat terbukti, maka sebuah hipotesis bisa dikembangkan menjadi teori ilmiah.

Erathostenes pada sekitar 200 tahun sebelum masehi bisa membuat eksperimen yang lulus ketika difalsifikasi oleh satelit-satelit modern. Alhazen pada sekitar tahun 1011 masehi berhasil membuat buku ilmiah yang memuat beragam eksperimen untuk memfalsifikasi teori-teorinya mengenai cahaya. Komunitas FE di tahun 2017 tidak bisa membuat satu pun teori koheren yang bisa difalsifikasi secara ilmiah.

Dari Al-Biruni Hingga Al-Tusi

Masalah ketiga yang saya temukan pada kawan-kawan proponen FE merupakan masalah yang paling serius. Dalam beberapa perdebatan, ketika kawan-kawan saya yang proponen FE kehabisan argumen, sebagian kemudian lari ke argumen, “tapi kan memang menurut Islam, bumi itu datar”. Ini membuat saya gusar luar biasa sampai akhirnya saya memutuskan untuk membuat tulisan ini.

Saya bayangkan, bagaimana reaksi Al-Biruni kalau tahu bahwa hampir seribu tahun setelah wafatnya, masih ada kaum muslim yang menganggap bumi ini datar? Sementara semasa hidupya, Al-Biruni sudah berhasil memformulasikan rumus untuk menghitung keliling dan radius bumi. Dengan metodenya sendiri (seperti yang bisa dilihat pada slideshow di bawah ini), Al-Biruni menghasilkan perhitungan angka radius bumi sebesar 6.339,9 kilometer, hanya berselisih 16,8 kilometer dari perhitungan sains modern sebesar 6.356,7 kilometer.

Eksperimen Al-Biruni
Rumus menghitung radius bumi versi Al-Biruni

Saya bayangkan juga, bagaimana perasaan Alhazen kalau tahu bahwa hampir seribu tahun setelah ia menulis Kitab Al-Manazir, masih ada kaum muslim yang jangankan menghasilkan teori yang koheren dan saintifik, untuk sekedar melakukan eksperimen sederhana untuk menguji asumsinya sendiri saja mereka tidak mau? Sementara penjelasan detil Alhazen mengenai eksperimen-eksperimen yang dilakukannya di Kitab Al-Manazir membuatnya dikenang sebagai salah satu pionir metode saintifik di dunia.

Saya bayangkan juga, apa yang akan dipikirkan Al-Tusi kalau tahu bahwa delapan ratus tahun setelah ia menyelesaikan Zij-i Ilkhani yang membahas tentang pergerakan planet-planet, masih ada kaum muslim yang menyangkal pergantian siang dan malam adalah akibat dari rotasi bumi? Sementara oleh beberapa kalangan, Al-Tusi disebut sebagai salah satu pionir yang merumuskan teori bahwa bumi berotasi dan karya Al-Tusi disebut sebagai salah satu sumber inspirasi bagi Copernicus.

Dunia Islam sudah selesai dengan bentuk bumi sejak Al-Biruni, sudah kaya dengan metode saintifik sejak Alhazen, dan sudah ramai dengan inquiry mengenai alam semesta sejak Al-Tusi dan sekian banyak saintis muslim lain di era medieval.

Dari Kultur Sains Hingga Ulil Albab

Oleh karena itu, jika kita kembali ke pertanyaan, “apakah betul kultur dunia Islam sejak akhir abad kesebelas hingga saat ini sudah berubah menjadi kultur yang anti sains?” di atas tadi, maka jawaban singkat saya adalah, “tidak”. Sayangnya, kita juga harus mengakui bahwa setelah era yang biasa disebut sebagai Islamic Golden Age, sedikit sekali perkembangan sains dan teknologi yang terjadi di dunia Islam.

Saya tidak sepenuhnya setuju dengan Tyson perihal Al-Ghazali. Kenyataannya, meski ‘memusuhi’ filsafat, ajaran Al-Ghazali tidak anti sains seperti yang diklaim Tyson. Toh, saintis-saintis muslim yang satu generasi dengan Al-Tusi masih bermunculan seratus tahun setelah Al-Ghazali tutup usia.

Di sisi lain, kita juga tidak bisa terus menerus menyalahkan sejarah. Faktanya, generasi Al-Tusi lahir setelah terjadi peristiwa the sacking of Baghdad pada tahun 1258, bukan sebelumnya. Hampir delapan ratus tahun kemudian, meski sebagian negara berpenduduk mayoritas muslim kini memiliki GDP yang besar, toh ternyata tidak satu pun yang masuk sebagai 20 besar Global Innovation Index, kalah dari negara-negara dengan GDP kecil seperti Luxembourg, Iceland, atau Estonia.

Sejujurnya saya juga tidak punya resep bagaimana cara mengembalikan masa keemasan tersebut. Jangankan untuk hal seberat itu, bagaimana cara menaikkan angka IPM sebuah daerah saja saya tidak tahu. Tapi saya tahu pasti satu hal, kultur anti sains seperti yang dianut oleh sebagian kecil kawan-kawan kita yang mendukung teori FE adalah salah satu hal yang harus kita buang jauh-jauh dari diskursus intelektual kita sehari-hari.

Saya sendiri ingin memulainya dari hal-hal kecil yang dekat saja. Menggunakan metode saintifik dalam mengembangkan bisnis saya, misalnya. Atau mengajarkan fenomena-fenomena alam kepada anak-anak saya melalui eksperimen sederhana. Cita-cita macam “mengembalikan era keemasan umat” terasa terlalu grandiose bagi seorang skeptic seperti saya. Tapi berusaha meraih fadilah seorang ulil albab dengan mempelajari sains dan membekali anak-anak saya dengan sains, rasanya tak muluk-muluk untuk saya coba lakukan.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

17 Comments

  1. Salam kenal Bang Iqbal.
    Sangat setuju dengan pendapat abang, bahwa budaya anti sains yg diperlihatkan oleh “rombongan sebelah” itu sangat amat mesti dihilangkan. Sayapun selalu gregetan dgn pemikiran2 mereka yg bahkan bentuk bulan pun mereka belum kompak (yg saya tau, ada yg menyebut bentuk bulan itu datar, bola, dan setengah bola) tapi sudah berani mengklaim bahwa kita dibodohi elit global terkait bentuk bumi. Yg memprihatinkan adalah mereka sering kali menafsirkan ayat suci sesuka hati dan diamini oleh pengikut yg malas mencari tahu kebenarannya.

    Dan sepertinya semakin banyak yg terang2an mengikuti paham datar tersebut

  2. Mas Iqbal,

    Saya penasaran apakah argumen ini pernah dilayangkan ke kaum bumi datar.

    “Terbanglah ke arah Barat, menuju Amerika, dengan singgah di Jepang. Kemudian setelah sampai di Amerika, terbanglah lagi ke arah barat ke salah satu negara Eropa, misalnya Turki. Kemudian dari Turki balik ke Indonesia, terbang nya juga ke arah barat. Dan sampai di Indonesia. Lha kalau bumi tidak bulat, bagaimana bisa seperti itu?”

    Tidak perlu lah menggunakan metode sains yang kita orang awam juga nggak ngerti. Argumen yang saya sebutkan diatas bisa dilakukan dengan modal kurang lebih 50 juta ripuah, sekaligus liburan.

    Apakah argumen seperti itu pernah dilontarkan ke mereka (kaum bumi datar) dan jawaban mereka apa ya?

    Terima kasih

    1. Salah satu alasan saya ceritakan panjang lebar soal eksperimen Erathostenes itu untuk menggambarkan betapa sulitnya mengajak kawan-kawan proponen FE ini untuk melakukan eksperimen. Padahal itu eksperimen sederhana sekali. Apalagi yang sampai keluar uang 50 juta, saya ga yakin mereka mau melakukannya Mas. Hehe.

    2. Ini mungkin salah satu kekurangan pendidikan di Indonesia. Dari SD, SMP, hingga SMA, sains sudah masuk di dalam kurikulum namun metode saintifik tetap ‘gagal’ diajarkan pada ‘orang awam’

    3. Halo Nizami.

      Video mana yang dimaksud ya? Apakah di videonya ada kawan-kawan FE yang mencoba melakukan ekspedisi yang disarankan Pak Erman?

  3. Alhamdulillah terima kasih mas iqbal, artikelnya benar benar membuka wawasan kita kembali mengenai dunia Science dalam Islam. Semoga kedepannya lebih banyak masyarakat yang bisa belajar dengan lebih baik lagi, agar mereka tidak serta merta menerima doktrin doktrin dari kaum anti-science yang mas sebutkan di atas. :)

  4. halo iqbal.

    saya menggunakan pendekatan2 saintifik seperti statistika, sosiologi, psikologi, dan lain lain untuk mengembangkan bisnis.

    saya juga menggunakan metode yang saintifik untuk meningkatkan efisiensi sebuah pabrik garment.

    tapi saya percaya bumi datar.

    apakah saya seorang yang memiliki kultur anti sains?

    apakah orang seperti saya yang menghambat pertumbuhan ekonomi?

    1. Halo Taufan.

      Whoa, glad to hear about your business!

      Kembali ke soal bumi datar. Menurut saya, mempercayai bumi datar paling sedikit punya dua impilkasi. Pertama, percaya bumi datar artinya menolak banyak sekali konsep-konsep fundamental dalam sains, misalnya gravitasi. Kedua, percaya bumi datar juga artinya menolak fakta-fakta kemajuan sains, misalnya keberadaan satelit. Kalau soal menghambat pertumbuhan ekonomi saya rasanya tidak pernah membahas ya.

      Dari dua implikasi tadi, saya penasaran sebenarnya bagaimana Taufan, yang dalam aktivitas sehari-hari sudah menggunakan metode saintifik, bisa sampai mempercayai bahwa bumi itu datar.

  5. Kaum bumi datar bisa lebih percaya kalau bumi itu datar karena salah satu alasan di Al-qur’an ada ayat yang menjelaskan bahwa bisa dibilang bahwa bumi itu datar walaupun menurut saya bila ayat tersebut di bawa ke kancah bumi itu bulat (Walau tidak bulat sutuhnya) tetap bisa masuk atau nyambung. Semoga adanya mereka bisa membuat umat islam ini terus berfikir dan bertanya tapi tidak sampai kebablasan. Oh ya terima kasih mas atas tulisannya mas Alhamdulillah bisa menambah ilmu, ngomong-ngomong kalau boleh saya minta tolong bantuannya buat menjawab beberapa pertanyaan dari saudara muslim yang percaya bumi itu datar, bukan untuk memojokkan tapi ingin lebih tahu apa dibalik semua ini. Terima kasih

    1. Saya kira ayat-ayat Quran tidak satu pun yang secara eksplisit mengatakan bahwa bumi itu datar. Paling dekat ya ayat-ayat semacam “bumi dihamparkan” itu saja. Melompat terlalu jauh kalau lantas menggunakan ayat ini sebagai pembenaran bahwa menurut Quran bumi itu datar.

      Soal pertanyaan, mangga aja kalau ada yg mau ditanyakan, tapi saya sendiri ga janji bakal cepet menjawabnya ya. Hehe.

  6. Kenapa saya bisa percaya bumi datar?

    Bisa dikatakan saya tidak perduli bumi itu datar, bola, elips, atau memiliki dimensi tak hingga.

    Saya pun hanya percaya, masalah benar atau tidak, sama sekali tidak mengganggu produktivitas, apalagi aktivitas sehari-hari. hanya saja saya SENANG kalau bumi itu datar.

    (sedikit banyak, saya juga senang bila ada orang yang ter-‘insult’ kalau saya mengatakan bumi itu datar, singkatnya saya senang gangguin orang.)

    2 implikasi?

    menolak konsep-konsep sains. Menolak satu, dua, atau banyak sekalipun bukan berarti menolak seluruh “sains”. Entah dia percaya bumi itu bulat atau datar, seorang mikrobiologist akan tetap dapat melahirkan manusia dari babi. Sama halnya dengan seorang ekonom yang dapat memodelkan pergerakan ekonomi berdasarkan beberapa variabel yang dianggap berpengaruh, walaupun percaya bumi datar.

    menolak fakta-fakta kemajuan sains. sekali lagi, menolak satu tidak berarti menolak semua. fakta bisa tumbuhnya embrio manusia dalam rahim babi dapat diterima bersamaan dengan menolak fakta satelit.

    dan dua implikasi tersebut, tidak membuat seseorang menjadi “out of science”

    sekali lagi, saya bukan mengatakan yang benar adalah bumi itu datar, dan bumi bola itu salah dan bodoh. saya pun ga bisa menjelaskan dengan baik argumen dari keduanya.

    karena gak semuanya harus terjelaskan, dan ada hal hal yang baiknya memang tidak terjelaskan secara saintifik, contohnya tuhan. dan tanpa terjelaskan atau tidak, kita manusia masih bisa membangun peradaban.

    1. Saya kira, kalau argumen Mas Taufan sekedar senang saja, saya tidak perlu menanggapi lebih lanjut diskusi ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *